8 Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Memilih Produk Perawatan Kulit Dan Kosmetik Berbahan Alami

Ini merupakan hal penting saat membeli produk kecantikan alami, sebab tidak semua produk kecantikan alami diproduksi sama.

Jumlah “greenwashing” (suatu tindakan korporasi tertentu yang memasarkan produknya seolah-olah alami dan sehat, meskipun pada kenyataannya sangat berlainan) terus meningkat, konsumen mulai memberi kepedulian dan perhatian lebih terhadap kandungan bahan pada produk mereka.

Oleh karena itu, anda sangat disarankan untuk membaca artikel ini.

Sebagai organ terbesar tubuh, kulit berperan penting dalam melindungi dan mengeluarkan racun dari dalam tubuh.

Ketika berbicara mengenai perawatan kulit dan kosmetik, penting untuk mempertimbangkan apa yang kita berikan pada kulit, karena pada beberapa produk, bahan kimia dapat dengan mudah diserap oleh kulit dan masuk ke dalam aliran darah.

Jadi bagaimana kalau kita beralih ke perawatan kulit dan kosmetik yang lebih aman dan alami? Berikut ini 8 hal yang harus anda perhatikan dalam memilih produk perawatan kulit dan kosmetik berbahan alami.

  1. Waspada dengan Kata “Alami” dan “Organik”
    Saya sepenuhnya mendukung perawatan kulit dan produk kosmetik alami dan organik. Namun, saya mengingatkan untuk mereka yang baru saja mulai menggunakan perawatan alami agar waspada terhadap kata-kata ini pada produk kecantikan.
    Label pada kemasan bisa saja menipu. Hanya karena ada sejumlah “bahan alami” yang ditambahkan ke dalam produk, bukan berarti membuat produk tersebut bersih dan tidak beracun. Pastikan untuk membaca label terlebih dahulu dan waspada terhadap nama-nama bahan kimia. Dibawah ini anda akan menemukan beberapa bahan kimia utama yang harus anda hindari.
  2. Paraben, Polyethylene Glycol (PEG), dan beberapa bahan kimia berbahaya lainnya
    Paraben (bahan pengawet sintetis) terdapat dihampir semua produk kecantikan konvensional. Paraben terkait dengan kanker dan bersifat menggangu kerja hormon. Produk yang diberi label “alami” atau “berasal dari tumbuhan” seringkali mengandung bahan berbahaya, jadi pastikan  untuk memeriksa label kemasan sebelum menggunakan.
    Bahan kimia berbahaya lainnya, yakni PEG, telah terbukti terkait dengan kanker. PEG juga dapat menyebabkan terjadinya penuaan dini karena mengganggu  kelembaban alami kulit.
  3. Simbol Kelinci Melompat
    Ternyata masih banyak produsen kosmetik yang melakukan uji coba terhadap hewan. Maka dari itu, carilah produk kosmetik yang memiliki logo “kelinci melompat” atau produk yang memiliki kata “Cruelty Free”, yang berarti bebas dari penyiksaan hewan. Produsen kosmetik ini harus kita dukung.
  4. Parfum
    Menurut Skin Deep Database, parfum terkait dengan alergi, dermatitis, gangguan pernapasan dan kesehatan reproduksi, terutama ibu hamil. Berhati-hatilah.
    Bila anda sedang mencari parfum atau pelembab beraroma, carilah yang alami, seperti produk dengan campuran berbasis minyak esensial.
  5. Keefektifan
    Ada kesalahpahaman yang berlangsung lama, yakni jika terbuat dari bahan alami, maka produk tersebut tidak akan bekerja dengan baik. Untungnya, sekarang banyak produsen yang telah menciptakan beberapa produk terbaik yang terbuat dari bahan alami tanpa bahan kimia beracun.
    Anda dapat mencarinya di toko setempat atau bisa juga dengan mencari secara online.
  6. Tanda Bintang
    Carilah tanda bintang kecil ini (*) setelah nama bahan kimia pada label. Seringkali mereka akan memberitahu anda sesuatu yang menarik. Semakin banyak, semakin baik.
  7. Nilai Merk
    Bila anda baru pertama kali beralih ke produk alami dan ingin mempelajari lebih dalam, saya sarankan untuk mengunjungi beberapa website produsen. Disana anda dapat mempelajari sumber bahan apa saja yang terkandung pada masing-masing produk.
  8. Jika ragu, periksa.
    Setiap kali anda ragu-ragu terhadap suatu produk dan bahan yang terkandung didalamnya, kunjungi website BPOM untuk memeriksa status kosmetik. Disana anda akan menemukan banyak informasi mengenai produk perawatan kulit dan kosmetik.

6 Cara Hepatitis C Mempengaruhi Wanita

1.       Sirosis Hati

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2000 dalam jurnal Hepatology, wanita cenderung mengembangkan sirosis hati dibandingkan dengan laki-laki. Peneliti menyatakan bahwa hormon estrogen melindungi wanita dari kerusakan hati dan sirosis. Meskipun begitu perlindungan dapat berkurang setelah menopause, sebab wanita menghasilkan lebih sedikit estrogen.

2.       Penggunaan Obat Intravena

Sebuah studi yang diterbitkan satu dekade lalu dalam jurnal Emerging Infectious Diseases, menemukan bahwa wanita lebih mungkin berbagi jarum atau menggunakan obat intravena dengan pasangan seksual mereka daripada pria. Penggunaan obat intravena merupakan penularan virus hepatitis C yang paling umum.

3.       Pembersihan Virus

Antara 15 sampai 20 persen penderita hepatitis C dapat membersihkan virus tanpa pengobatan, sebelum menjadi kronis. Studi pada tahun 2014 yang diterbitkan dalam jurnal Hepatology menemukan bahwa wanita lebih mungkin untuk memiliki izin pembersihan virus. Peneliti menduga bahwa estrogen memainkan peranan di sini.

4.       Penularan Melalui Menstruasi

Risiko penularan hepatitis C melalui hubungan seksual sangat rendah, tapi, seperti halnya HIV, risiko tersebut dapat meningkat dengan aktivitas yang menyebabkan paparan darah yang lebih, seperti seks anal. Selain itu, berhubungan dengan wanita yang terinfeksi dan sedang menstruasi dapat meningkatkan risiko penularan.

5.       Hepatitis C lebih dari 20 tahun yang lalu

Sebelum tahun 1992, ketika penyaringan ketat terhadap suplai darah AS dimulai, banyak wanita yang melakukan persalinan sesar menerima transfusi darah, dan mungkin telah terinfeksi dengan hepatitis C. Karena penyakit ini bisa berakibat tanpa gejala selama puluhan tahun, banyak wanita tidak tahu bahwa mereka memiliki virus. Para ahli menyarankan bagi wanita yang memiliki hepatitis C sebelum tahun 1992 untuk diperiksa.

6.       Kontrasepsi Oral

Pil kontrasepsi oral yang mengandung estrogen umumnya aman untuk wanita dengan hepatitis C, seperti halnya terapi penggantian hormon untuk wanita menopause. Tapi, pil yang mengandung estrogen tidak dianggap aman bagi wanita dengan penyakit hati yang parah, karena hati tidak dapat memecah hormon ini lagi.

Limfoma atau Kanker Kelenjar Getah Bening

Kanker ini tumbuh pesat dalam dunia modern, yang diperkirakan menjadi kanker kedua atau ketiga terbesar pada tahun 2025. Penyebabnya mencakup polutan kimia seperti formaldehida, benzena, herbisida dan pestisida.

Limfoma bukanlah kanker tunggal, melainkan sekelompok dari 30-40 kanker yang berbeda namun saling berhubungan erat.

Limfoma atau kanker kelenjar getah bening merupakan istilah yang diberikan kepada kelompok kanker pada sistem limfatik, yang terjadi ketika sel darah putih yang disebut limfosit menjadi abnormal dan ganas.

Limfoma terbagi menjadi dua jenis:

  • Limfoma non Hodgkin
  • Limfoma Hodgkin

Non Hodgkin menyumbang sekitar 80 persen atas kasus tersebut.

Kemudian, ke dua jenis ini dibagi lagi menjadi beberapa jenis lebih lanjut.

Para ilmuwan mempelajari limfoma sel B besar difus, jenis yang paling sering ditemukan pada limfoma non Hodgkin, dan ‘obat’ yang dibuat oleh peneliti terbukti mampu sepenuhnya memberantas limfoma manusia pada tikus setelah lima dosis.

Rupanya faktor transkripsi regulasi, BCL6, mengontrol DNA untuk memastikan limfoma agresif tumbuh. Para peneliti Weill Cornell mengembangkan inhibitor untuk menghentikan Bc16. Sebab banyak pasien telah kebal dengan pengobatan yang tersedia, maka diperlukan pengobatan baru untuk mengobati limfoma.

Sistem Limfatik

Getah bening adalah cairan tak berwarna yang menggenangi sel-sel tubuh, melewati dinding kapiler ke dalam sistem getah bening, dengan setidaknya satu kelenjar getah bening sebelum diteruskan ke dalam aliran darah. Anda memiliki dua kali lebih banyak getah bening yang berfungsi untuk mengambil nutrisi ke dalam sel tubuh saat mengambil racun dan bakteri dari sel. Getah bening juga membawa trigliserida dari lemak yang dicerna di dalam usus. Ini juga merupakan bagian dari sistem imun. Sistem limfatik terdiri dari serangkaian pembuluh dan kelenjar yang menyebar ke seluruh tubuh. Volume terbesar dari getah bening terdapat di saluran toraks yang terletak di dada.

Pada malam hari saat anda tidur, aliran getah bening melambat. Gravitasi dapat menggerakkan getah bening, tetapi poros penggerak utama aliran getah bening adalah tindakan anda sendiri. Tindakan yang menggerakkan dada akan menggerakkan getah bening, termasuk gerakan lengan, peregangan, tawa, berenang, dan sebagainya.

Getah bening berisi sel darah putih yang melawan infeksi, sebagian disebut limfosit. Ada beberapa bentuk, khususnya limfosit B dan limfosit T. Keduanya berkembang dalam sumsum tulang dan berkumpul dibagian-bagian tertentu dari sistem limfatik, seperti kelenjar getah bening. Anda juga menjadi lebih rentan terhadap infeksi ketika limfosit rusak.

Gejala Limfoma

Gejala yang paling sering ditemukan adalah pembengkakan tanpa rasa sakit di kelenjar getah bening, biasanya diketiak, pangkal paha, atau leher. Ini disebabkan berkumpulnya limfosit yang rusak di titik tersebut. Pembengkakkan juga bisa menyebabkan nyeri. Namun, bukan berarti hanya karena anda memiliki kelenjar getah bening yang bengkak lantas anda berpikiraan bahwa anda memiliki kanker kelenjar getah bening,kelenjar getah bening bisa membengkak akibat respon terhadap infeksi apapun. Setelah kanker mulai menyebar, anda akan merasakan gejala keletihan atau kelelahan, keringat malam, demam, penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, batuk terus-menerus, atau perasaan sesak napas dan kesulitan menyingkirkan infeksi. Beberapa orang mengalami gatal persisten dari kulit di seluruh tubuh dan sensitifitas terhadap alkohol.

Jika limfoma berada dalam perut anda, anda mungkin akan mengalami kembung atau gangguan pencernaan.

Sementara itu, gejala limfoma hodgkin, meliputi: pendarahan hidung atau bercak darah dibawah kulit.

Limfoma Hodgkin (sebelumnya disebut penyakit hodgkin)

Di beri nama setelah seorang dokter pertama kali teridentifikasi pada tahun 1832, yakni Thomas Hodgkin. Limfoma hodgkin adalah salah satu kanker yang sering di temui diantara mereka yang lebih muda, meskipun saat ini masih jarang. Kanker ini mempengaruhi kelompok usia antara 15 sampai 35, dan diatas usia 55. Kanker ini lebih banyak menyerang pria dibanding wanita. Meskipun tampak agresif, kanker ini dapat berhasil ditangani dalam waktu sekitar 80 persen dari kejadian.

Ini ditentukan oleh adanya sel limfosit B besar abnormal, dikenal juga dengan nama sel Reed Sternberg (RS). Limfosit B yang diproduksi dalam tubuh berfungsi untuk merespon invasi benda asing. Biasanya virus atau bakteri, tapi dapat mencakup racun atau bahan kimia.

Limfoma hodgkin terbagi menjadi beberapa jenis, diantaranya:

  • Limfoma Hodgkin Sklerosis Nodular: Kelenjar getah bening yang terkena dampak telah bercampur dengan bidang sel normal, sel RS, dan jaringan bekas luka yang menonjol. Limfoma hodgkin jenis ini adalah yang paling sering ditemui, yang membentuk 60% sampai 80% dari semua kejadian.
  • Limfoma Hodgkin Klasik dengan Limfosit Dominan: Jenis baru yang teridentifikasi dan berperilaku seperti limfoma hodgkin bentuk campuran sel.
  • Limfoma Hodgkin Bentuk Campuran Sel: Kelenjar getah bening yang terkena mengandung banyak sel RS disamping beberapa jenis sel lain. Limfoma hodgkin jenis ini sangat mempengaruhi orang yang lebih tua.
  • Limfoma Hodgkin dengan Limfosit Sedikit: Terdapat sejumlah besar sel RS, tapi sangat sedikit jenis sel lain yang ditemukan salam kelenjar getah bening. Ini adalah bentuk yang sering ditemui dari limfoma hodgkin dan ditemukan kurang dari 5% dari kejadian. Limfoma hodgkin jenis ini terlihat lebih sering ditemui pada usia lanjut atau pasien yang mengidap AIDS.
  • Limfoma Hodgkin Nodular Limfosit Predominan: Limfoma hodgkin jenis ini tidak dianggap sebagai limfoma hodgkin klasik, karena tidak memiliki beberapa ciri yang mengidentifikasikan limfoma hodgkin maupun limfoma non hodgkin. Sebagian besar limfosit ditemukan pada kelenjar getah bening normal. Sel abnormal yang dikenal sebagai “sel popcorn” adalah jenis khusus dari sel B yang ditemukan dalam berbagai nodular. Limfoma hodgkin jenis ini menyumbang sekitar 5% atau 6% dari kejadian, mempengaruhi lebih banyak pria dibanding wanita. Usia rata-rata pasien berada dipertengahan 30-an. Jenis limfoma hodgkin ini biasanya di diagnosa pada tahap awal dan prognosanya sangat baik.

Limfoma non Hodgkin

Limfoma non-Hodgkin adalah jenis limfoma tanpa sel RS dan merupakan jenis yang paling sering ditemui dari limfoma. Secara luas dikategorikan dalam dua kelompok:

  • Kelas tinggi, atau limfoma non-hodgkin agresif, dimana kanker berkembang cepat dan agresif.
  • Kelas rendah, atau limfoma non-Hodgkin indolen, dimana kanker berkembang perlahan-lahan dan mungkin tidak memilki gejala apapun selama bertahun-tahun.

Kanker ini dikaitkan dengan penuaan dan usia rata-rata saat didiagnosa adalah sekitar 65 tahun.

Limfoma non hodgkin kelas tinggi meningkat pesat tapi dapat dengan cepat di diagnosa dan diobati. Rata-rata sekitar 60% dari kejadian serupa dapat bertahan hidup sampai 5 tahun.

Sebaliknya, Limfoma non Hodgkin kelas rendah lebih sulit didiagnosa dan mungkin tidak menimbulkan gejala hingga cukup lanjut, membuatnya lebih sulit untuk disembuhkan meskipun gejalanya berhasil diketahui.

Penyebab

Terdapat keraguan bahwa ini adalah kanker dari dunia modern. Penelitian telah menunjukan bahwa penyebabnya antara lain:

  • Polusi kimia: pelarut kimia seperti aseton, benzena, toluena, xilena, terpentin, dan berbagai alkohol, bukan hanya itu, etil alkohol telah dikaitkan dengan limfoma. Yale School of Public Health telah membuat sebuah laporan tentang pelarut organik dan hubungannya dengan limfoma non-Hodgkin. UC Berkeley School of Public Health melakukan penelitian dengan menggunakan data dari 22 penelitian dan menyimpulkan bahwa, “Temuan risiko relatif tinggi dalam penelitian paparan benzena dan pekerjaan kilang minyak memberikan bukti lebih lanjut bahwa paparan benzena menyebabkan Limfoma non Hodgkin.”
  • Trisiklikanti-depresan: Orang yang mengonsumsi trisiklik antidepresan berada pada peningkatan risiko untuk kelompok kanker darah langka yang dikenal sebagai limfoma non-Hodgkin, menurut penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari Institute of Cancer Epidemiology di Danish Cancer Society, dan diumumkan dalam jurnal Epidemiology.

    Hasil penelitian kami menunjukkan peningkatan risiko limfoma non-Hodgkin secara khusus di kalangan pengguna obat antidepresan trisiklik jangka panjang,” tulis para peneliti. “Mengingat tingginya prevalensi penggunaan antidepresan, temuan ini menjamin studi tambahan.”

  • Pewarna Rambut Gelap telah dikaitkan dengan limfoma. Penelitian Amerika pada tahun 2008 dalam Journal of Epidemiology berkomentar tentang ini.
  • Formaldehida juga telah dikaitkan dengan limfoma, seperti yang dilaporkan beberapa tahun lalu di CANCER actives Cancer Watch.
  • Pestisida: Bahan kimia seperti herbisida, defoliasi, dan pestisida telah dikaitkan dengan limfoma. Para pekerja di sektor pertanian memiliki risiko yang lbih tinggi tehadap kanker ini, dan risikonya meluas hingga ke masyarakat umum yang meminum air yang berasal dari ladang tersebut.
  • Logam berat dan medan elektromagnetik juga sempat dikaitkan tetapi belum ditemukan bukti.

Faktanya, jumlah kasus baru limfoma non Hodgkin di dunia modern perlahan tapi pasti naik lebih dari 4% per tahun.Tingkat pertumbuhan tersebut akan membuat kanker ini menjadi yang terbesar di Inggris pada tahun 2030.

Virus Epstein Barr telah dikaitkan dengan limfoma. Pasien yang mengidap HIV memiliki risiko tinggi, sama halnya dengan pasien yang memiliki infeksi bakteri Helicobacter pylori.

Memorial Sloan Kettering akan mencari kemungkinan adanya faktor genetik yang terjadi dalam keluarga.

Pengobatan

Terdapat banyak pengobatan yang tersedia, namun karena ada begitu banyak jenis limfoma yang berbeda, pengobatan akan sangat tersendiri untuk anda.

Misalnya, pusat kanker MD Anderson di Texas, daftar pengobatannya sebagai berikut:

  • Antibodi monoklonal
  • Terapi sitokin
  • Terapi vaksin
  • Pemberian obat liposomal
  • Anti angiogenesis
  • Program skrining obat baru
  • Manajemen kasus yang tidak biasa atau sulit

Memorial Sloan Kettering berada dalam uji coba klinis dengan,

  • Pralatrexate dan Gemcitabine, ditambah asam folat dan vitamin B-12
  • Bendamustine HC1
  • ABVD dengan atau tanpa Rituximab
  • SGN-35

Pengobatan Limfoma non Hodgkin

  1. Radioterapi dapat digunakan didaerah terbatas, seperti leher dan kelenjar getah bening, atau diatas wilayah yang lebih luas, seperti dada dan perut bagian atas. Radioterapi dapat digunakan bersamaan dengan kemoterapi.

    Radio imunoterapi dapat menggunakan radio berlabel antibodi monoklonal untuk beberapa jenis limfoma.

  2. Pilihan kemoterapi yang umum, antara lain:
  • ABVD: mengacu pada kombinasi obat adriamycin, bleomycin, vinblastine, dan dacarbazine (DTIC). Diberikan sebagai suntikan dan biasanya diulang setiap 2 minggu.
  • CHOP: salah satu rejimen kemoterapi yang paling sering digunakan untuk mengobati limfoma non-Hodgkin. Terdapat 4 obat dalam rejimen tersebut,
    • Cyclophosphamide (cytoxan, neosar)
    • Adriamycin (doxorubicin, atau hydroxydoxorubicin)
    • Vincristine (oncovin)
    • Tablet prednisone steroid (kadang-kadang disebut deltasone atau orasone)

Pengobatan ini mungkin menyebabkan masalah kesuburan, dan efek samping seperti mual, kesemutan di tangan dan kaki serta rambut rontok. Menurut American NCI, pasien yang menggunakan pengobatan ini memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker sekunder di otak, hati, ginjal, kandung kemih, kulit dan paru-paru. Pengobatan biasanya mencakup 6 siklus setiap 4 minggu.

  1. R-CHOP: menambahkan rituximab antibodi monoklonal. Uji klinis sedang mempertimbangkan apakah perlu diresepkan setiap 14 atau 21 hari, untuk limfoma non-Hodgkins.

Untuk pasien tahap lanjut, sampel sumsum tulang dapat diambil dan disimpan dalam pendingin, sedangkan kemoterapi akan membunuh semua sel darah putih dalam tubuh. Kemudian, setelah sumsum tulang ditransplantasikan, akan tumbuh sel darah putih baru.

Diagnosa

Limfoma dapat didiagnosa dan dikonfirmasi dalam beberapa cara:

  • Tes Angiografi Kelenjar Getah Bening: Cairan berwarna disuntikkan ke dalam pembuluh limfatik, memungkinkan kelenjar getah bening dan pembuluh limfatik terlihat lebih jelas dengan menggunakan sinar-X.
  • Pemindaian Gallium (Radioisotop): galium radioaktif disuntikkan ke dalam pembuluh darah dan diedarkan ke seluruh tubuh agar berkumpul di dalam tumor. Tubuh kemudian dipindai dari beberapa sudut yang berbeda. Tes tersebut dapat sangat berguna pada limfoma Hodgkin.
  • Tes darah: dapat menentukan tingkat abnormal sel darah merah dan putih.
  • Aspirasi dan Biopsi Sumsum Tulang: sumsum tulang diperoleh dengan cara memasukkan jarum panjang yang sangat tipis ke dalam tulang besar (misalnya: pinggul) dan mengumpulkan sampel kecil dari sumsum. Jaringan kulit dan permukaan tulang akan mati rasa setelah pemberian anestesi lokal terlebih dahulu.
  • Sinar-X: mengambil gambar dari daerah yang terinfeksi di dalam tubuh.
  • Biopsi: mengambil sedikit jaringan dari daerah yang dicurigai kanker untuk memeriksa sel darah putih di bawah mikroskop.
  • Computerised Tomography (CT) Scan: mengambil gambar sinar-X 3D dari sudut yang berbeda di seluruh tubuh. Gambar-gambar tersebut kemudian digabungkan dengan menggunakan komputer. Namun, terdapat kekhawatiran, jika terlalu banyak menggunakan CT scan akan dapat menyebabkan kanker.
  • Magnetic Resonance Imaging (MRI): MRI mirip dengan CT scan, tetapi menggunakan magnet dan gelombang frekuensi radio bukan sinar-X. MRI kurang bermanfaat dibanding CT scan untuk penggunaan pada limfoma Hodgkin, meskipun begitu MRI sangat bermanfaat dalam evaluasi tulang dan otak.
  • Positron Emission Tomography (PET) Scan: gambar PET memberikan informasi tentang fungsi jaringan.

Penentuan Stadium

Stadium menggambarkan sejauh mana tumor telah menyebar di dalam tubuh. Sekaligus membantu memprediksi hasil dan prognosis serta dapat menentukan metode pengobatan.

  • Stadium I (tahap awal): limfoma berada pada satu kelompok kelenjar getah bening.
  • Stadium II (tahap lanjut secara lokal): limfoma berada pada dua atau lebih kelompok kelenjar getah bening dan berada pada satu sisi diafragma.
  • Stadium III (tahap lanjut): ada lebih dari dua kelompok kelenjar getah bening yang berada pada dua sisi diafragma.
  • Stadium IV (tahap luas): limfoma telah terjadi di organ tubuh lain seperti di tulang, sumsum tulang, kulit dan bahkan organ lain.

Terapi Alternatif, Pengobatan Tambahan

  1. Fukoidan adalah senyawa alami yang ditemukan dalam berbagai macam bentuk rumput laut seperti kombu, limu, wakame, dan mozuku, ditambah hewan yang berbentuk seperti teripang. Peneliti dari Hashemite University di Yordania dalam konferensi AACR Dead Sea International Conference  Advances tentang kamajuan penelitian kanker pada studi sebelumnya menemukan ekstrak dari rumput laut coklat yang umum menyebabkan kematian sel kanker (apoptosis) dan menyusutkan tumor. Fukoidan menekan pertumbuhan sel kanker dan menyebabkan peningkatan yang signifikan pada kematian sel.

    “Beberapa bentuk limfoma sel B secara khusus kebal terhadap pengobatan standar dan dengan demikian diperlukan terapi baru,” kata Profesor Mohammad Irhimeh, menambahkan dalam penelitian ini, “kami meneliti strategi pengobatan baru yang menggunakan senyawa aktif baru yang berasal dari sumber alami rumput laut. Uji klinis telah direncanakan.”

  2. Vitamin D. Pasien limfoma yang memiliki kekurangan vitamin D dua kali lebih besar kemungkinannya untuk meninggal akibat kanker, dengan kadar darah normal (25 nanogram per liter), kata para ilmuwan di Mayo Clinic.

    50 persen pasien dalam penelitian tersebut (semuanya didiagnosa pada tahun 2002-2008) memiliki kekurangan vitamin D. Selama tiga tahun berikutnya kelompok 50 persen tersebut lebih cenderung memburuk dan dua kali lebih besar kemungkinannya untuk meninggal.

    Fukoidan dan Vitamin D tersedia dalam bentuk suplemen.

  3. Penelitian lain telah menemukan senyawa alami yang mungkin bisa membantu. Mayo Clinic mengatakan, 5 cangkir teh hijau setiap hari dapat menghentikan limfoma. Penelitian yang dilakukan oleh Tohoku School of Medicine selama 9 tahun tersebut diikuti oleh 42.000 orang, mengonsumsi teh hijau. Para peneliti menemukan adanya penurunan sebesar 40 persen untuk kelompok pertama dan 50 persen untuk yang kedua.
    1. Selenium, memiliki kemampuan untuk menggantikan logam berat dari sel.
    2. Indole 3 Carbinol, telah terbukti menggantikan atau mendenaturasi polutan kimia dari tubuh.
    3. Chlorella, dapat membantu membersihkan jaringan tertentu, dan
    4. Bakteri yang menguntungkan (probiotik), yang telah terbukti dalam uji klinis membantu menghilangkan polutan kimia dan logam berat dari tubuh yang erat kaitannya dengan lignan.

Kesimpulan

Limfoma merupakan suatu penyakit di dalam kelenjar getah bening. Berkembang pesat disebabkan oleh polusi di dunia modern sampai dengan 40 variasi dan banyaknya pengobatan tersendiri. Penyakit ini memerlukan perhatian dari berbagai pihak. Pada tahun 2030, bisa saja menjadi kanker terbesar di dunia barat.